ID / EN

PESONAS II 2026 Dibuka, 1.011 Atlet Disabilitas Intelektual Bersaing di Kupang

Berita Fachri Irgiana Nurhakim 19 dibaca

Pembukaan PESONAS II NTT Tahun 2026 berjalan meriah.

KUPANG — Sebanyak 1.011 atlet dari 22 provinsi mengikuti Pekan Special Olympics Nasional (PESONAS) II Tahun 2026 yang resmi dibuka di GOR Flobamora, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 14 Oktober 2026. Ajang yang berlangsung hingga 18 Oktober ini menjadi bagian dari upaya menjaring dan membina atlet penyandang disabilitas intelektual untuk menghadapi Special Olympics World Games 2027 di Santiago, Cile.

Sejak pukul 16.00 WITA, para kontingen telah memenuhi kawasan GOR Flobamora. Iring-iringan atlet bergerak dari jalan di sekitar gedung menuju pintu masuk, disambut panitia melalui pengalungan kepada perwakilan kontingen. Para atlet kemudian memasuki arena untuk mengikuti rangkaian pembukaan yang berlangsung meriah, diiringi tepuk tangan dan penampilan tarian tradisional NTT.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena secara resmi membuka PESONAS II 2026. Prosesi dilanjutkan dengan penyalaan obor utama bersama perwakilan kontingen, menandai dimulainya kompetisi olahraga bagi atlet penyandang disabilitas intelektual tersebut.

Menjaring Atlet Menuju Santiago

Ketua Panitia Pelaksana PESONAS II NTT 2026, Reni Marlina Un, mengatakan kompetisi ini bertujuan menjaring atlet berbakat yang akan dibina untuk menghadapi Special Olympics World Games pada Oktober 2027 di Santiago, Cile.

“Tujuan pelaksanaan PESONAS II Nusa Tenggara Timur adalah untuk menjaring atlet atau orang bertalenta khusus yang berprestasi di SOINA Indonesia yang akan dibina dalam upaya persiapan menghadapi Olimpiade Disabilitas Intelektual atau Special Olympics World Games pada bulan Oktober tahun 2027 di Santiago, Chili,” kata Reni.

Menurut dia, PESONAS juga menjadi wadah untuk menemukan anak muda yang memiliki potensi di bidang olahraga, sekaligus mempererat persaudaraan dan persahabatan antar atlet dari berbagai daerah.

Ketua Umum Pengurus Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna), Warsito Ellwein, menyebut PESONAS sebagai puncak kegiatan empat tahunan bagi atlet bertalenta khusus untuk mencapai prestasi optimal.

“Sudah menjadi tugas kita bersama untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada atlet SOINA agar dapat berprestasi secara maksimal,” ujarnya.

Warsito mengatakan Indonesia memperoleh kuota 76 orang untuk Special Olympics World Games 2027 di Santiago. Menurut dia, jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan kuota untuk ajang serupa di Berlin pada 2023.

Kuota tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya pembinaan berkelanjutan setelah PESONAS. Namun, kesempatan menuju kompetisi internasional tetap bergantung pada proses seleksi dan pembinaan atlet.

Tujuh Cabang Olahraga Dipertandingkan

PESONAS II 2026 mempertandingkan tujuh cabang olahraga, yakni sepak bola kelimaan, renang, senam ritmik, atletik, tenis meja, bulu tangkis, dan bocce. Pertandingan berlangsung di sejumlah lokasi di Kota Kupang sesuai dengan cabang olahraga masing-masing.

Pembukaan PESONAS II NTT 2026 berlangsung semarak dan dihadiri oleh jajaran pejabat penting, mitra strategis, serta kontingen dari berbagai daerah. Turut hadir Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Gubernur NTT Joni Asadoma beserta Ibu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos RI Supomo, Ketua DPRD Provinsi NTT Emi Nomleni beserta jajaran anggota DPRD Provinsi NTT dan DPRD dari 22 provinsi peserta, Wali Kota Kupang Dr. Christian Widodo, serta Sekretaris Daerah Provinsi NTT Fransiskus Sales Sodo.

Acara ini juga dihadiri oleh jajaran Forkopimda dan Pimpinan OPD lingkup Pemprov NTT—termasuk Kadispora NTT Dr. Alfonsus Teodorus—serta Bupati, Wakil Bupati (seperti Wakil Bupati Sleman yang juga Ketua Pengprov SOIna DIY), dan Kadispora dari 22 provinsi peserta.

Dari jajaran organisasi dan lembaga mitra, hadir Ketua Umum PP SOIna Warsito beserta Ibu, perwakilan Special Olympics Asia Pacific Mr. Chris Morris dan Miss Pretty, Ketua Pengprov SOIna NTT Kris Mboeik, para Ketua SOIna Pengprov/Kabupaten/Kota se-Indonesia, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, perwakilan Lions Club Indonesia Ibu Rosi beserta tim selaku donatur, serta Ketua TP PKK Provinsi NTT, Banten, dan Sumatera Barat.

Kemeriahan acara ini didukung penuh oleh Panitia Pelaksana PESONAS II NTT 2026 di bawah pimpinan Ibu Reni Marlina Un, pembawa doa Kabid Urusan Agama Katolik Kanwil Kemenag NTT Fransiskus Saverius Ki, S.Ag., serta pencipta lagu Jadilah Juara Tia Subiakto bersama penyanyi Don Arteta. Kehadiran para atlet disabilitas intelektual, orang tua, pelatih, official, manajer, wasit, pendamping ASN, dan rekan media dari 22 provinsi peserta makin melengkapi kehangatan ajang nasional ini.

Lebih dari Sekadar Medali

Dalam sambutannya, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan PESONAS tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan dan perolehan medali. Menurut dia, ajang ini merupakan ruang untuk menunjukkan keberanian, kemampuan, dan potensi setiap atlet.

“PESONAS ini bukan sekadar ajang pertandingan dan perlombaan, tapi perayaan atas keberanian, potensi, dan kemampuan setiap manusia untuk bertumbuh, berkembang, dan memberikan yang terbaik,” kata Melki.

Ia mengatakan keberhasilan atlet juga tercermin dari keberanian mencoba, kedisiplinan berlatih, semangat untuk bangkit, dan sikap menghargai sesama. Ia berharap penyelenggaraan PESONAS di NTT memperkuat komitmen untuk menyediakan kesempatan yang setara bagi penyandang disabilitas intelektual.

Penyelenggaraan ajang ini juga menjadi ujian bagi tuan rumah dalam menyediakan lingkungan pertandingan yang aman, nyaman, dan inklusif. Dukungan tidak hanya diperlukan selama kompetisi, tetapi juga dalam pembinaan setelahnya, termasuk melalui akses terhadap fasilitas olahraga, pelatih, dan kesempatan bertanding secara berkelanjutan.

Keberhasilan PESONAS pada akhirnya tidak hanya diukur dari kelancaran acara atau jumlah medali yang diraih. Kesempatan atlet untuk berkembang, memperoleh pembinaan, dan melanjutkan prestasi ke tingkat yang lebih tinggi menjadi bagian penting dari tujuan penyelenggaraan olahraga inklusif.

Editor: Maria Y. W. Tuda